Barisan adalah daftar bilangan yang berurutan. Deret adalah hasil ketika suku-suku dari daftar itu dijumlahkan. Dalam topik ini, AP berarti arithmetic progression, GP berarti geometric progression, HP berarti harmonic progression, dan konvergensi menanyakan apakah suku-suku atau jumlah parsial mendekati suatu nilai hingga.

Jika Anda butuh versi singkatnya: AP memiliki beda tetap, GP memiliki rasio tetap, dan HP adalah barisan yang kebalikannya membentuk AP. Untuk deret geometri tak hingga, jumlah hanya ada ketika r<1|r| < 1.

Barisan vs. deret: pahami pertanyaan mana yang sedang dijawab

Jika Anda menulis daftar

2, 5, 8, 11,2,\ 5,\ 8,\ 11,\dots

maka itu adalah barisan. Jika Anda menulis jumlah

2+5+8+11+2 + 5 + 8 + 11 + \dots

maka itu adalah deret.

Perbedaan ini menentukan alat mana yang harus digunakan. "Cari suku ke-nn" adalah pertanyaan tentang barisan. "Cari jumlah nn suku pertama" adalah pertanyaan tentang deret.

AP, GP, dan HP: cara mengenali tiap pola

Arithmetic Progression (AP)

AP berubah dengan jumlah yang sama di setiap langkah. Jika suku pertamanya aa dan bedanya dd, maka

an=a+(n1)da_n = a + (n-1)d

dan jumlah nn suku pertama adalah

Sn=n2[2a+(n1)d]S_n = \frac{n}{2}\left[2a + (n-1)d\right]

atau secara ekuivalen

Sn=n2(a+an)S_n = \frac{n}{2}(a + a_n)

Contoh: 4,7,10,13,4, 7, 10, 13, \dots adalah AP karena setiap suku bertambah 33.

Geometric Progression (GP)

GP berubah dengan faktor yang sama di setiap langkah. Jika suku pertamanya aa dan rasionya rr, maka

an=arn1a_n = ar^{n-1}

dan untuk r1r \ne 1,

Sn=a(1rn)1rS_n = \frac{a(1-r^n)}{1-r}

Untuk deret geometri tak hingga, jumlah hanya ada ketika r<1|r| < 1. Dalam hal itu,

S=a1rS_{\infty} = \frac{a}{1-r}

Contoh: 3,6,12,24,3, 6, 12, 24, \dots adalah GP karena setiap suku dikalikan 22.

Harmonic Progression (HP)

HP didefinisikan melalui kebalikan. Barisan tak nol a1,a2,a3,a_1, a_2, a_3, \dots berada dalam HP jika

1a1, 1a2, 1a3,\frac{1}{a_1},\ \frac{1}{a_2},\ \frac{1}{a_3},\dots

merupakan AP.

Jadi jika

1an=A+(n1)d\frac{1}{a_n} = A + (n-1)d

dengan penyebut tak nol, maka

an=1A+(n1)da_n = \frac{1}{A + (n-1)d}

Contoh: 12,14,16,18,\frac{1}{2}, \frac{1}{4}, \frac{1}{6}, \frac{1}{8}, \dots adalah HP karena kebalikannya 2,4,6,8,2, 4, 6, 8, \dots membentuk AP.

HP terutama merupakan gagasan klasifikasi dalam matematika sekolah. Tidak seperti AP dan GP, HP tidak memiliki satu rumus jumlah pengantar yang standar untuk dipakai pada sebagian besar soal dasar.

Konvergensi: kapan proses tak hingga memiliki limit hingga

Suatu barisan konvergen jika suku-sukunya mendekati limit tetap.

Sebagai contoh,

1n0as n\frac{1}{n} \to 0 \quad \text{as } n \to \infty

jadi barisan (1n)\left(\frac{1}{n}\right) konvergen ke 00.

Suatu deret konvergen jika jumlah parsialnya mendekati limit tetap. Jika

Sn=a1+a2++anS_n = a_1 + a_2 + \dots + a_n

dan bilangan-bilangan SnS_n mendekati suatu nilai hingga SS, maka deret tak hingga itu konvergen ke SS.

Inilah bagian yang sering terlewat oleh banyak siswa: barisan yang konvergen tidak otomatis menghasilkan deret yang konvergen. Suku-suku yang menuju 00 memang perlu agar deret konvergen, tetapi syarat itu saja belum cukup.

Sebagai contoh, barisan harmonik

1, 12, 13, 14,1,\ \frac{1}{2},\ \frac{1}{3},\ \frac{1}{4},\dots

memang konvergen ke 00 sebagai barisan suku, tetapi deret harmonik

1+12+13+14+1 + \frac{1}{2} + \frac{1}{3} + \frac{1}{4} + \dots

tidak konvergen ke jumlah hingga.

Contoh soal: uji GP dan jumlahkan deret tak hingganya

Perhatikan deret geometri tak hingga

6+3+32+34+6 + 3 + \frac{3}{2} + \frac{3}{4} + \dots

Deret ini berasal dari GP

6, 3, 32, 34,6,\ 3,\ \frac{3}{2},\ \frac{3}{4},\dots

Di sini suku pertamanya adalah a=6a = 6 dan rasionya adalah

r=36=12r = \frac{3}{6} = \frac{1}{2}

Karena r=12<1|r| = \frac{1}{2} < 1, deret tak hingga ini konvergen. Jumlahnya adalah

S=a1r=6112=612=12S_{\infty} = \frac{a}{1-r} = \frac{6}{1-\frac{1}{2}} = \frac{6}{\frac{1}{2}} = 12

Langkah kuncinya adalah memeriksa syaratnya sebelum memakai rumus. Jika r<1|r| < 1, deret geometri tak hingga konvergen. Jika r1|r| \ge 1, deret itu tidak konvergen ke jumlah hingga.

Kesalahan umum pada barisan, deret, dan konvergensi

Tertukar antara suku dan jumlah

Suku a5a_5 dan jumlah S5S_5 bukan jenis jawaban yang sama. Yang satu adalah suku dalam daftar. Yang lain adalah total.

Memakai uji beda pada GP

Jika polanya dikali 22, maka itu geometri meskipun bilangannya bertambah secara teratur. Beda tetap dan rasio tetap adalah dua uji yang berbeda.

Lupa syarat konvergensi untuk GP tak hingga

Rumus

S=a1rS_{\infty} = \frac{a}{1-r}

hanya berlaku ketika r<1|r| < 1.

Mengira "suku menuju nol" sudah cukup

Untuk deret, itu hanya pemeriksaan awal. Deret harmonik adalah contoh tandingan yang paling umum.

Menganggap HP sebagai "apa pun yang berbentuk pecahan"

HP bukan sekadar barisan pecahan. Kebalikannya harus membentuk AP.

Di mana AP, GP, HP, dan konvergensi digunakan

AP memodelkan perubahan penjumlahan yang tetap, seperti menabung jumlah yang sama setiap bulan. GP memodelkan perkalian berulang, seperti pertumbuhan majemuk atau peluruhan berulang. HP muncul dalam aljabar sekolah dan dalam soal-soal ketika hubungan kebalikan menjadi pola yang alami.

Konvergensi penting setiap kali prosesnya tak hingga atau sangat panjang. Konsep ini muncul dalam deret tak hingga, metode aproksimasi, keuangan, dan topik lanjutan seperti deret pangkat dan kalkulus.

Coba soal serupa

Ambil GP

8, 4, 2, 1,8,\ 4,\ 2,\ 1,\dots

Cari rasionya, lalu tentukan apakah deret tak hingga 8+4+2+1+8 + 4 + 2 + 1 + \dots konvergen. Setelah itu, bandingkan dengan AP 8,4,0,4,8, 4, 0, -4, \dots untuk melihat seberapa cepat uji "beda vs. rasio" membedakan kedua pola tersebut.

Jika Anda ingin langkah berikutnya, coba buat versi Anda sendiri dengan suku pertama dan rasio yang berbeda, lalu periksa syarat konvergensinya sebelum menghitung jumlah tak hingga apa pun.

Butuh bantuan mengerjakan soal?

Unggah pertanyaanmu dan dapatkan solusi terverifikasi langkah demi langkah dalam hitungan detik.

Buka GPAI Solver →