Barisan adalah daftar bilangan yang berurutan. Deret adalah hasil ketika suku-suku dari daftar itu dijumlahkan. Dalam topik ini, AP berarti arithmetic progression, GP berarti geometric progression, HP berarti harmonic progression, dan konvergensi menanyakan apakah suku-suku atau jumlah parsial mendekati suatu nilai hingga.
Jika Anda butuh versi singkatnya: AP memiliki beda tetap, GP memiliki rasio tetap, dan HP adalah barisan yang kebalikannya membentuk AP. Untuk deret geometri tak hingga, jumlah hanya ada ketika .
Barisan vs. deret: pahami pertanyaan mana yang sedang dijawab
Jika Anda menulis daftar
maka itu adalah barisan. Jika Anda menulis jumlah
maka itu adalah deret.
Perbedaan ini menentukan alat mana yang harus digunakan. "Cari suku ke-" adalah pertanyaan tentang barisan. "Cari jumlah suku pertama" adalah pertanyaan tentang deret.
AP, GP, dan HP: cara mengenali tiap pola
Arithmetic Progression (AP)
AP berubah dengan jumlah yang sama di setiap langkah. Jika suku pertamanya dan bedanya , maka
dan jumlah suku pertama adalah
atau secara ekuivalen
Contoh: adalah AP karena setiap suku bertambah .
Geometric Progression (GP)
GP berubah dengan faktor yang sama di setiap langkah. Jika suku pertamanya dan rasionya , maka
dan untuk ,
Untuk deret geometri tak hingga, jumlah hanya ada ketika . Dalam hal itu,
Contoh: adalah GP karena setiap suku dikalikan .
Harmonic Progression (HP)
HP didefinisikan melalui kebalikan. Barisan tak nol berada dalam HP jika
merupakan AP.
Jadi jika
dengan penyebut tak nol, maka
Contoh: adalah HP karena kebalikannya membentuk AP.
HP terutama merupakan gagasan klasifikasi dalam matematika sekolah. Tidak seperti AP dan GP, HP tidak memiliki satu rumus jumlah pengantar yang standar untuk dipakai pada sebagian besar soal dasar.
Konvergensi: kapan proses tak hingga memiliki limit hingga
Suatu barisan konvergen jika suku-sukunya mendekati limit tetap.
Sebagai contoh,
jadi barisan konvergen ke .
Suatu deret konvergen jika jumlah parsialnya mendekati limit tetap. Jika
dan bilangan-bilangan mendekati suatu nilai hingga , maka deret tak hingga itu konvergen ke .
Inilah bagian yang sering terlewat oleh banyak siswa: barisan yang konvergen tidak otomatis menghasilkan deret yang konvergen. Suku-suku yang menuju memang perlu agar deret konvergen, tetapi syarat itu saja belum cukup.
Sebagai contoh, barisan harmonik
memang konvergen ke sebagai barisan suku, tetapi deret harmonik
tidak konvergen ke jumlah hingga.
Contoh soal: uji GP dan jumlahkan deret tak hingganya
Perhatikan deret geometri tak hingga
Deret ini berasal dari GP
Di sini suku pertamanya adalah dan rasionya adalah
Karena , deret tak hingga ini konvergen. Jumlahnya adalah
Langkah kuncinya adalah memeriksa syaratnya sebelum memakai rumus. Jika , deret geometri tak hingga konvergen. Jika , deret itu tidak konvergen ke jumlah hingga.
Kesalahan umum pada barisan, deret, dan konvergensi
Tertukar antara suku dan jumlah
Suku dan jumlah bukan jenis jawaban yang sama. Yang satu adalah suku dalam daftar. Yang lain adalah total.
Memakai uji beda pada GP
Jika polanya dikali , maka itu geometri meskipun bilangannya bertambah secara teratur. Beda tetap dan rasio tetap adalah dua uji yang berbeda.
Lupa syarat konvergensi untuk GP tak hingga
Rumus
hanya berlaku ketika .
Mengira "suku menuju nol" sudah cukup
Untuk deret, itu hanya pemeriksaan awal. Deret harmonik adalah contoh tandingan yang paling umum.
Menganggap HP sebagai "apa pun yang berbentuk pecahan"
HP bukan sekadar barisan pecahan. Kebalikannya harus membentuk AP.
Di mana AP, GP, HP, dan konvergensi digunakan
AP memodelkan perubahan penjumlahan yang tetap, seperti menabung jumlah yang sama setiap bulan. GP memodelkan perkalian berulang, seperti pertumbuhan majemuk atau peluruhan berulang. HP muncul dalam aljabar sekolah dan dalam soal-soal ketika hubungan kebalikan menjadi pola yang alami.
Konvergensi penting setiap kali prosesnya tak hingga atau sangat panjang. Konsep ini muncul dalam deret tak hingga, metode aproksimasi, keuangan, dan topik lanjutan seperti deret pangkat dan kalkulus.
Coba soal serupa
Ambil GP
Cari rasionya, lalu tentukan apakah deret tak hingga konvergen. Setelah itu, bandingkan dengan AP untuk melihat seberapa cepat uji "beda vs. rasio" membedakan kedua pola tersebut.
Jika Anda ingin langkah berikutnya, coba buat versi Anda sendiri dengan suku pertama dan rasio yang berbeda, lalu periksa syarat konvergensinya sebelum menghitung jumlah tak hingga apa pun.
Butuh bantuan mengerjakan soal?
Unggah pertanyaanmu dan dapatkan solusi terverifikasi langkah demi langkah dalam hitungan detik.
Buka GPAI Solver →