Hukum-hukum termodinamika menjelaskan empat gagasan inti: apa arti suhu, bagaimana energi kekal, mengapa proses nyata memiliki arah yang diutamakan, dan mengapa nol mutlak hanya merupakan kasus batas. Jika Anda mencari hukum termodinamika ke-0, 1, 2, dan 3 dalam satu tempat, versi singkatnya ada di bawah ini.
Empat Hukum Termodinamika Sekilas
- Hukum ke-0: kesetimbangan termal memungkinkan kita mendefinisikan suhu.
- Hukum ke-1: energi kekal.
- Hukum ke-2: entropi menentukan arah dan batas efisiensi.
- Hukum ke-3: nol mutlak tidak dapat dicapai dengan langkah berhingga biasa.
Hukum Termodinamika ke-0: Mengapa Suhu Adalah Besaran Fisik Nyata
Jika sistem berada dalam kesetimbangan termal dengan sistem , dan berada dalam kesetimbangan termal dengan sistem , maka dan juga berada dalam kesetimbangan termal.
Inilah yang membuat suhu dapat diukur, bukan sekadar sesuatu yang dirasakan secara intuitif. Termometer bekerja karena ia dapat mencapai kesetimbangan termal dengan benda yang Anda ukur lalu merepresentasikan suhu itu secara konsisten.
Hukum Termodinamika ke-1: Energi Kekal
Hukum pertama adalah kekekalan energi yang diterapkan pada sistem termodinamika. Dalam salah satu konvensi tanda yang umum untuk sistem tertutup,
dengan adalah perubahan energi dalam, adalah kalor yang ditambahkan ke sistem, dan adalah kerja yang dilakukan sistem pada lingkungannya.
Kondisinya penting. Beberapa mata kuliah mendefinisikan kerja dengan tanda yang berlawanan, jadi selalu periksa konvensinya sebelum memasukkan angka ke persamaan.
Hukum pertama memberi tahu Anda seberapa banyak energi berubah bentuk. Dengan sendirinya, hukum ini tidak memberi tahu proses mana yang dapat terjadi secara alami.
Hukum Termodinamika ke-2: Arah Proses dan Entropi Itu Penting
Hukum kedua menyatakan bahwa proses alami memiliki arah. Kalor mengalir spontan dari suhu tinggi ke suhu rendah, bukan dari suhu rendah ke suhu tinggi, kecuali jika ada kerja dari luar yang diberikan.
Untuk sistem terisolasi, salah satu pernyataan yang umum adalah
dengan adalah entropi. Tanda sama dengan berlaku pada batas reversibel. Proses nyata biasanya membuat pertidaksamaan ini menjadi ketat karena ada irreversibilitas.
Inilah juga alasan tidak ada mesin kalor yang dapat mengubah seluruh kalor yang diserap menjadi kerja dalam satu siklus. Hukum pertama menyatakan energi kekal; hukum kedua menyatakan tetap ada batas pada seberapa berguna energi itu dapat dimanfaatkan.
Hukum Termodinamika ke-3: Batas Dekat Nol Mutlak
Hukum ketiga menyatakan bahwa saat , entropi kristal sempurna mendekati suatu nilai konstan, yang umumnya diambil nol.
Bagi kebanyakan siswa, inti praktisnya lebih sederhana: mencapai nol mutlak secara tepat tidak mungkin dilakukan melalui urutan langkah pendinginan berhingga yang biasa. Semakin dekat suatu sistem ke , semakin sulit pendinginan lebih lanjut dilakukan.
Bagaimana Keempat Hukum Ini Saling Terkait
Hukum-hukum ini paling masuk akal jika dipahami sebagai suatu urutan, bukan sebagai empat fakta yang terpisah.
Hukum ke-0 memberi makna pada suhu. Hukum ke-1 memberi tahu Anda untuk melacak energi. Hukum ke-2 memberi tahu bahwa kekekalan saja tidak cukup, karena ada proses yang diizinkan dan ada yang tidak. Hukum ke-3 memberi tahu bahwa perilaku pada suhu rendah menghadapi batas yang keras.
Itulah sebabnya termodinamika lebih dari sekadar pembukuan. Termodinamika membahas baik neraca energi maupun kemungkinan fisik.
Contoh Soal: Mengapa Mesin Kalor Tidak Bisa 100% Efisien
Misalkan sebuah mesin kalor ideal bekerja antara reservoir panas pada dan reservoir dingin pada . Dalam setiap siklus, mesin menyerap dari reservoir panas.
Jika mesin bersifat reversibel, hukum kedua memberikan efisiensi maksimum yang mungkin:
Jadi bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun, hanya dari kalor yang diserap yang dapat menjadi kerja.
Artinya kerja maksimum per siklus adalah
Sekarang gunakan hukum pertama untuk satu siklus penuh. Karena mesin kembali ke keadaan awalnya, perubahan energi dalam bersihnya nol. Kalor yang diserap harus terbagi menjadi keluaran kerja dan kalor yang dibuang:
Jadi kalor minimum yang dibuang ke reservoir dingin adalah
Contoh ini menunjukkan peran tiap hukum dengan jelas. Hukum pertama menyeimbangkan energi, sedangkan hukum kedua membatasi seberapa banyak energi itu dapat menjadi kerja yang berguna.
Kesalahan Umum pada Hukum-Hukum Termodinamika
Salah satu kesalahan umum adalah menganggap hukum gas ideal sebagai salah satu hukum termodinamika. Itu tidak benar. adalah model untuk gas ideal, dan hanya berlaku ketika asumsi-asumsinya masuk akal.
Kesalahan lain adalah melupakan konvensi tanda pada hukum pertama. Sebelum menyelesaikan soal, periksa apakah sumber Anda mendefinisikan sebagai kerja yang dilakukan sistem atau kerja yang dilakukan pada sistem.
Kesalahan ketiga adalah menggunakan Celsius ketika rasio atau ekspresi entropi memerlukan suhu mutlak. Untuk rumus yang melibatkan atau entropi, gunakan Kelvin.
Juga mudah untuk melebih-lebihkan hukum ketiga. Hukum ini tidak mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi pada suhu sangat rendah. Hukum ini menyatakan bahwa ada batas ketat pada perilaku entropi dekat dan pada pencapaian nol mutlak secara tepat.
Di Mana Hukum-Hukum Termodinamika Digunakan
Hukum-hukum termodinamika muncul dalam mesin, lemari es, ilmu iklim, kimia, ilmu material, dan biologi. Hukum-hukum ini muncul setiap kali energi dipindahkan sebagai kalor atau kerja.
Dalam soal-soal dasar, hukum pertama sering menangani perhitungan utama dan hukum kedua menjelaskan batasnya. Hukum ke-0 dan ke-3 lebih jarang muncul dalam soal substitusi sederhana, tetapi tetap penting karena mendefinisikan kerangka di balik hasil-hasil lainnya.
Coba Soal Termodinamika Serupa
Cobalah versi Anda sendiri dari contoh mesin dengan suhu reservoir yang berbeda. Pertama hitung efisiensi maksimum dari hukum kedua, lalu gunakan neraca energi untuk mencari kalor yang dibuang. Itu adalah cara cepat untuk membuat keempat hukum terasa saling terhubung, bukan sekadar dihafal.
Butuh bantuan mengerjakan soal?
Unggah pertanyaanmu dan dapatkan solusi terverifikasi langkah demi langkah dalam hitungan detik.
Buka GPAI Solver →